Pages

Post Title 2

Salam Message

Sabtu, 22 Januari 2011

RINDU MUHAMMAD S.A.W


_“Ya Rasulullah, apakah tidak sebaiknya saya timpakan gunung itu kepada mereka, “ pinta Malaikat penjaga gunung geram atas hinaan pada Rasulullah. “Tak usah wahai malaikat, mereka hanyalah orang-orang yang belum tahu. Semoga Allah membukakan hati mereka pada kebenaran”, jawab Rasulullah seraya tersenyum. (sikap Rasul dlm menghadapi hinaan dan celaan orang-orang Thaif)..



Rindu kami padamu Ya Rasul

Rindu tiada terperi

Berabad jarak darimu Ya Rasul

Serasa dikau disini



Cinta ikhlasmu pada manusia

Bagai cahaya surga

Dapatkah kami membalas cintamu

Secara bersahaja



Rindu kami padamu Ya Rasul

Rindu tiada terperi

Berabad jarak darimu Ya Rasul

Serasa dikau disini



Cinta ikhlasmu pada manusia

Bagai cahaya surga

Dapatkah kami membalas cintamu

Secara bersahaja



Rindu kami padamu Ya Rasul

Rindu tiada terperi

Berabad jarak darimu Ya Rasul

Serasa dikau disini

By. Bimbo



“Laqad kâna lakum fi rasulillah uswah hasanah li man kana yarjullâh wal yawmal akhîra wa dzakarallâha katsîra”. (Sudah ada bagimu pada diri Rasulullah teladan yang baik, yakni bagi orang-orang yang mengharap Allah dan hari akhir dan bagi orang yang banyak mengingat Allah)

Dalam QS. Al-Ahzab, 21 di atas, Allah mewartakan Nabi Muhammad Saw adalah uswatun hasanah, teladan yang baik. Kisah hidupnya adalah cermin spiritual dan moral bagi seluruh manusia. Kata dan lakunya menebarkan wangi kebajikan. Rasulullah adalah teladan. Ia mengajarkan umat manusia bagaimana bersabar dalam cobaan, menahan hawa amarah, membalas keburukan dengan kasih sayang.



Setelah Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam wafat, seketika itu pula kota Madinah bising dengan tangisan ummat Islam; antara percaya - tidak percaya, Rasul Yang Mulia telah meninggalkan para sahabat. Beberapa waktu kemudian, seorang arab badui menemui Umar dan dia meminta, "Ceritakan padaku akhlak Muhammad!". Umar menangis mendengar permintaan itu. Ia tak sanggup berkata apa-apa. Ia menyuruh Arab badui tersebut menemui Bilal. Setelah ditemui dan diajukan permintaan yg sama, Bilal pun menangis, ia tak sanggup menceritakan apapun. Bilal hanya dapat menyuruh orang tersebut menjumpai Ali bin Abi Thalib.



Orang Badui ini mulai heran. Bukankah Umar merupakan seorang sahabat senior Nabi, begitu pula Bilal, bukankah ia merupakan sahabat setia Nabi.



Mengapa mereka tak sanggup menceritakan akhlak Muhammad Orang Badui ini mulai heran. Bukankah Umar merupakan seorang sahabat senior Nabi, begitu pula Bilal, bukankah ia merupakan sahabat setia Nabi. Mengapa mereka tak sanggup menceritakan akhlak Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam. Dengan berharap-harap cemas, Badui ini menemui Ali. Ali dengan linangan air mata berkata, "Ceritakan padaku keindahan dunia ini!." Badui ini menjawab, "Bagaimana mungkin aku dapat menceritakan segala keindahan dunia ini...." Ali menjawab, "Engkau tak sanggup menceritakan keindahan dunia padahal Allah telah berfirman bahwa sungguh dunia ini kecil dan hanyalah senda gurau belaka, lalu bagaimana aku dapat melukiskan akhlak Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam, sedangkan Allah telah berfirman bahwa sungguh Muhammad memiliki budi pekerti yang agung! (QS. Al-Qalam[68]: 4)"



Badui ini lalu menemui Siti Aisyah r.a. Isteri Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam yang sering disapa "Khumairah" oleh Nabi ini hanya menjawab, khuluquhu al-Qur'an (Akhlaknya Muhammad itu Al-Qur'an). Seakan-akan Aisyah ingin mengatakan bahwa Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam itu bagaikan Al-Qur'an berjalan. Badui ini tidak puas, bagaimana bisa ia segera menangkap akhlak Nabi kalau ia harus melihat ke seluruh kandungan Qur'an. Aisyah akhirnya menyarankan Badui ini untuk membaca dan menyimak QS Al-Mu'minun [23]: 1-11.



Bagi para sahabat, masing-masing memiliki kesan tersendiri dari pergaulannya dengan Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam. Kalau mereka diminta menjelaskan seluruh akhlak Nabi, linangan air mata-lah jawabannya, karena mereka terkenang akan junjungan mereka. Paling-paling mereka hanya mampu menceritakan satu fragmen yang paling indah dan berkesan dalam interaksi mereka dengan Nabi terakhir ini.



Mari kita kembali ke Aisyah. Ketika ditanya, bagaimana perilaku Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam, Aisyah hanya menjawab, “Ah semua perilakunya indah.” Ketika didesak lagi, Aisyah baru bercerita saat terindah baginya, sebagai seorang isteri. “Ketika aku sudah berada di tempat tidur dan kami sudah masuk dalam selimut, dan kulit kami sudah bersentuhan, suamiku berkata, ‘Ya Aisyah, izinkan aku untuk menghadap Tuhanku terlebih dahulu.’” Apalagi yang dapat lebih membahagiakan seorang isteri, karena dalam sejumput episode tersebut terkumpul kasih sayang, kebersamaan, perhatian dan rasa hormat dari seorang suami, yang juga seorang utusan Allah.



Nabi Muhammad sallAllahu ‘alayhi wasallam jugalah yang membikin khawatir hati Aisyah ketika menjelang subuh Aisyah tidak mendapati suaminya disampingnya. Aisyah keluar membuka pintu rumah. terkejut ia bukan kepalang, melihat suaminya tidur di depan pintu. Aisyah berkata, “Mengapa engkau tidur di sini?” Nabi Muhammmad menjawab, “Aku pulang sudah larut malam, aku khawatir mengganggu tidurmu sehingga aku tidak mengetuk pintu. itulah sebabnya aku tidur di depan pintu.” Mari berkaca di diri kita masing-masing. Bagaimana perilaku kita terhadap isteri kita? Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam mengingatkan, “berhati-hatilah kamu terhadap isterimu, karena sungguh kamu akan ditanya di hari akhir tentangnya.” Para sahabat pada masa Nabi memperlakukan isteri mereka dengan hormat, mereka takut kalau wahyu turun dan mengecam mereka.



Buat sahabat yang lain, fragmen yang paling indah ketika sahabat tersebut terlambat datang ke Majelis Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam. Tempat sudah penuh sesak. Ia minta izin untuk mendapat tempat, namun sahabat yang lain tak ada yang mau memberinya tempat. Di tengah kebingungannya, Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam memanggilnya. Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam memintanya duduk di dekatnya. Tidak cukup dengan itu, Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam pun melipat sorbannya lalu diberikan pada sahabat tersebut untuk dijadikan alas tempat duduk. Sahabat tersebut dengan berlinangan air mata, menerima sorban tersebut namun tidak menjadikannya alas duduk akan tetapi malah mencium sorban Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam tersebut.



Senangkah kita kalau orang yang kita hormati, pemimpin yang kita junjung tiba-tiba melayani kita bahkan memberikan sorbannya untuk tempat alas duduk kita. Bukankah kalau mendapat kartu lebaran dari seorang pejabat saja kita sangat bersuka cita. Begitulah akhlak Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam, sebagai pemimpin ia ingin menyenangkan dan melayani bawahannya. Dan tengoklah diri kita. Kita adalah pemimpin, bahkan untuk lingkup paling kecil sekalipun, sudahkah kita meniru akhlak Rasul Yang Mulia.

Dalam suatu kesempatan menjelang akhir hayatnya, Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam berkata pada para sahabat, “Mungkin sebentar lagi Allah akan memanggilku, aku tak ingin di padang mahsyar nanti ada diantara kalian yang ingin menuntut balas karena perbuatanku pada kalian. Bila ada yang keberatan dengan perbuatanku pada kalian, ucapkanlah!” Sahabat yang lain terdiam, namun ada seorang sahabat yang tiba-tiba bangkit dan berkata, “Dahulu ketika engkau memeriksa barisan di saat ingin pergi perang, kau meluruskan posisi aku dengan tongkatmu. Aku tak tahu apakah engkau sengaja atau tidak, tapi aku ingin menuntut qishash hari ini.” Para sahabat lain terpana, tidak menyangka ada yang berani berkata seperti itu. Kabarnya Umar langsung berdiri dan siap “membereskan” orang itu. Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam pun melarangnya. Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam pun menyuruh Bilal mengambil tongkat ke rumah beliau. Siti Aisyah yang berada di rumah Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam keheranan ketika Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam meminta tongkat. Setelah Bilal menjelaskan peristiwa yang terjadi, Aisyah pun semakin heran, mengapa ada sahabat yang berani berbuat senekad itu setelah semua yang Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam berikan pada mereka.



Rasul memberikan tongkat tersebut pada sahabat itu seraya menyingkapkan bajunya, sehingga terlihatlah perut Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam. Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam berkata, “Lakukanlah!”



Detik-detik berikutnya menjadi sangat menegangkan. Tetapi terjadi suatu keanehan. Sahabat tersebut malah menciumi perut Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam dan memeluk Nabi seraya menangis, “Sungguh maksud tujuanku hanyalah untuk memelukmu dan merasakan kulitku bersentuhan dengan tubuhmu!. Aku ikhlas atas semua perilakumu wahai Rasulullah”. Seketika itu juga terdengar ucapan, “Allahu Akbar” berkali-kali. Sahabat tersebut tahu, bahwa permintaan Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam itu tidak mungkin diucapkan kalau Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam tidak merasa bahwa ajalnya semakin dekat. Sahabat itu tahu bahwa saat perpisahan semakin dekat, ia ingin memeluk Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam sebelum Allah memanggil Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam ke hadirat-Nya.



Suatu pelajaran lagi buat kita. Menyakiti orang lain baik hati maupun badannya merupakan perbuatan yang amat tercela. Allah tidak akan memaafkan sebelum yang kita sakiti memaafkan kita. Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam pun sangat hati-hati karena khawatir ada orang yang beliau sakiti. Khawatirkah kita bila ada orang yang kita sakiti menuntut balas nanti di padang Mahsyar di depan Hakim Yang Maha Agung ditengah miliaran umat manusia?

Nabi Muhammad telah mengajarkan kita akan kesabaran dan kasih sayang. Sebab, cahaya Islam akan tersingkap dengan tingkah laku dan kata yang baik. Islam adalah rahmatanlil’alamin, Islam akan bercahaya dengan umatnya yang meneladani Manusia Terbaik di muka bumi ini. Kata kotor, laku kasar, caci maki dan benci justru akan menjauhkan manusia dari cahaya Islam. Kita seyogyanya malu, jika cahaya Islam itu terhalang oleh perilaku kita yang tidak mencontoh Nabi Muhammad SAW..



Ada beberapa petuah Rasul yang penuh hikmah;



Dari Abu Hurairah -radhiyallahu’anhu-, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:



1. Barangsiapa yang MENGHILANGKAN KESULITAN HIDUP yang dialami oleh seorang mukmin di DUNIA niscaya Allah akan LEPASKAN darinya beban KESULITAN HIDUP pada hari KIAMAT.



2. Barangsiapa yang MERINGANKAN beban orang yang KESULITAN untuk MELUNASI HUTANGNYA maka Allah akan berikan KERINGANAN baginya di DUNIA dan di AKHIRAT.



3. Barangsiapa yang MENUTUPI KEBURUKAN seorang muslim maka Allah akan MENUTUPI KEBURKANNYA di DUNIA dan di AKHIRAT.



4. Allah senantiasa MENOLONG seorang hamba selama dia mau MENOLONG saudaranya.



5. Barangsiapa yang menempuh suatu JALAN dalam rangka MENCARI ILMU maka Allah akan MUDAHKAN baginya JALAN menuju SURGA.



6. Tidaklah suatu kaum berkumpul di dalam salah satu rumah Allah dengan MEMBACA KITABULLAH di dalamnya dan SALING MEMPELAJARINYA di antara mereka melainkan akan turun kepada mereka KETENANGAN dan KASIH SAYANG akan meliputi mereka serta para MALAIKAT akan meliputi mereka, Allah juga akan MENYEBUT0NYEBUT mereka di hadapan para malaikat yang ada di sisi-Nya.



7. Barangsiapa yang LAMBAT AMALNYA maka tingginya garis keturunannya tidak bisa MEMPERCEPAT PAHALA amalnya.”



(HR. Muslim dalam Kitab ad-Dzikr wa ad-Du’a wa at)



Pada Hari Jum’at lalu kita memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, Moment tersebut tentunya akan mengingatkan kita kembali dan menambah kecintaan kita kepada Rasulullah, Namun kalau betul-betul mencintai Rasulullah tentunya bukan hanya mencintai Rasulullah di hari maulid saja melainkan ia mencintai Rasulullah setiap saat, karena Rasulullah ada di dalam hatinya. Karena itulah, di mana pun ia berada, maka ia akan selalu mengingat Rasulullah dan mencontoh seri tauladan beliau..



Disamping itu kita diharafkan tuk memperbanyak shalawatnya kepada Rasulullah.

Sabda Rasulullah:

Perbanyaklah umatku untuk bershalawat kepadaku kalau berharap untuk mendapatkan syafaatku.



Ada seorang sahabat Rasulullah yang bertanya kepada Rasulullah:

“Ya Rasulullah, saya suka berzikir dan berdoa, serta mengerjakan amalan-amalan lainnya. Berapa banyakkah seharusnya saya mengkhususkan bershalawat kepadamu? Apakah seperempat waktu zikir saya khususkan untuk bershalawat kepadamu?”

Rasulullah mengatakan, “Boleh, kalau kamu tambah lagi, maka itu baik buatmu.”

”Ya Rasulullah, saya mengusahakan setengah waktu untuk bershalawat kepadamu.”

”Itu baik. Tapi jika kamu menambah lagi, maka itu baik untukmu.”

”Ya Rasulullah, saya bershalawat kepadamu setiap saat dan setiap waktu.”

Kata Rasulullah,”Kalau kamu mengisi waktu banyak bershalawat kepadaku, maka Allah akan mengangakat kesusahan dan kesulitanmu, dan Allah akan menghapuskan dan mengampuni seluruh dosamu.” (H.R. Thabrani, Baihaqi, dan Imam Ahmad dalam musnadnya).



Catatan: tulisan ini disadur dari berbagai sumber, tidak ada maksud lain, melainkan semoga bermanfaat, mohon maaf dan koreksinya jika ada kesalahan, akhirnya semoga kita selalu ada dlm Rahmat, berkah serta lindungan Allah SWT amiin...

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

0 komentar:

Posting Komentar